PEKUNCEN – Semangat pelestarian budaya dan kreativitas pemuda bersatu padu dalam acara Kemah Bakti Karang Taruna Kecamatan Pekuncen Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen. Berdasarkan dokumen resmi dari Kecamatan Pekuncen, kegiatan yang diinisiasi oleh Camat Pekuncen, Dhany Budiarto, S.STP., ini berlangsung meriah selama dua hari, yakni Sabtu hingga Minggu, 27–28 Juni 2026.Salah satu sorotan utama yang mencuri perhatian dalam rangkaian acara—khususnya pada sesi Pentas Seni Pemuda yang dijadwalkan pada Sabtu malam (27/6) sesuai rundown adalah kehadiran wadah kreatif seni tari kenamaan, DS Nayantara.
DS Nayantara, yang merupakan singkatan resmi dari Dance Studio Nayantara (atau dikenal juga sebagai Dhea Selika Nayantara), hadir sebagai ruang ekspresi yang berfokus pada pengembangan bakat, pelestarian budaya, serta inovasi gerakan koreografi. Studio ini menjadi oase bagi para pencinta seni untuk mengeksplorasi keindahan gerak tubuh, baik dalam ranah tari tradisional, kontemporer, maupun modern.
Sosok vital di balik layar estetika ini adalah Dhea Selika. Sebagai pelopor utama, pendiri, sekaligus mentor dan koreografer, Dhea membawa visi segar ke dalam dunia seni tari. Di bawah arahannya, DS Nayantara berkomitmen penuh melahirkan penari-penari berbakat yang berkarakter, kreatif, dan berdedikasi tinggi.
Secara filosofis, nama "Nayantara" diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti mendalam:
Nayan (नयन): Berarti "mata". Dalam seni tari, mata adalah jendela jiwa dan salah satu elemen paling krusial (Abhinaya) untuk menyampaikan emosi tanpa kata-kata.
Tara (تارا / तारा): Berarti "bintang" atau "pupil mata", yang melambangkan cahaya penuntun di kegelapan.
Secara harfiah, Nayantara bermakna "Bintang di Mata" atau "Cahaya Mata", sebuah doa agar studio ini mampu mencetak para penari yang bersinar terang bak bintang di atas panggung pertunjukan.
Dalam momentum kemah bakti ini, DS Nayantara menyelaraskan visi budayanya melalui karya sendratari bertajuk “Kamandaka Ciptarasa”. Karya ini mengangkat latar tanah Banyumas yang damai, di mana masyarakatnya dituntun oleh sebuah petuah leluhur yang disebut “Pule Bahas”—suara kebijaksanaan yang menaungi kehidupan.
Kisah ini menarasikan hadirnya tokoh Kamandaka, seorang pengembara bijaksana di tengah masyarakat yang mulai terpecah oleh keserakahan. Melalui perjalanan batin, Kamandaka menyadarkan rakyat bahwa kekuatan sejati lahir dari keseimbangan antara cipta dan rasa—antara pikiran, hati, budaya, dan alam.
Secara artistik, gagasan “Pule Bahas” yang diusung memiliki arti penting:
“Pule”: Melambangkan keteduhan, kekuatan batin, perlindungan, dan spiritualitas pohon pule dalam budaya Jawa.
“Bahas”: Dimaknai sebagai tutur, petuah, pesan kehidupan, atau suara hati masyarakat.
Melalui penampilan memukau yang dihadirkan di Lapangan Desa Tumiyang, DS Nayantara tidak hanya menghibur ratusan peserta Kemah Bakti Karang Taruna Pekuncen 2026, tetapi juga berhasil menyampaikan pesan moral yang mendalam. Kebudayaan Banyumasan pun kembali hidup dan menjadi cahaya inspirasi yang membakar semangat gotong royong generasi penerus.